Profil dan Sejarah Desa Se Kecamatan. Jekulo Kab. Kudus

1.) DESA HONGGOSOCO

Honggosoco terletak di kecamatan jekulo paling barat laut yang berbatasan langsung dengan kecamatan Dawe di sebelah utaranya dan kecamatan Bae sebelah baratnya.

Batas-batas desa :
1. Sebelah Utara : Desa Rejosari dan
Desa Margorejo Kecamatan Dawe
2. Sebelah Selatan : Desa Hadipolo
Kecamatan Jekulo
3. SebelahTimur : Desa Tanjungrejo
Kecamatan Jekulo
4. Sebelah Barat : Desa Karangbener
Kecamatan Bae

Honggosoco merupakan desa asri nan hijau yang berbukit-bukit dengan  masih mempunyai lahan yang luas dalam bidang  pertanian, perkebunan dan ladangnya.
Sedangkan dari sektor perekonomian desa Honggosoco mempunyai berbagai macam profesi pekerjaan mulai dari buruh,petani,pns, para wirausaha bahkan pengusaha.

Honggosoco menurut geografis termasuk berada di daerah dataran tinggi berada di daerah kaki gunung muria yang memiliki suhu sejuk, tidak panas dan tidak pula dingin.
Selain itu memiliki kelebihan tidak menjadi salah satu tempat banjir maupun tanah longsor.

Nama desa Honggosoco konon diambil dari nama tokoh penyebar agama islam di desa itu yaitu mbah Honggowongso. Serta soco yang dalam bahasa jawa artinya Mata.
Sehingga Honggosoco merupakan desa yang menjadi terang penglihatannya karena kedatanganya Mbah Honggowongso penyebar agama islam.
Mbah Honggowongo adalah seorang ulama tokoh penyebar islam yang merupakan murid dari Sunan Muria (Salah satu walisongo yang terkenal di pulau Jawa).
Sampai sekarang tiap tahunnya selalu diperingati Haul Mbah Honggowongso atau memperingati wafatnya yang di selenggarakan tiap bulan Muharram (sasi Suro dalam Jawa).
Tiap Haul di peringati dengan acara ziarah kubur ke makam mbah Honggowongso di dukuh Pandak desa Colo kecamatan Dawe. Selain itu juga di adakan pengajian dan wayang kulit di punden mbah Honggowongso. Punden merupakan rumah peninggalan mbah Honggowongso yang sampai saat ini masih dirawat para pengurus dengan sangat baik. Itulah sekilas cerita yang telah dihimpun dari masyarakat setempat. Yang bagaimana nama Honggsoco sebenarnya belum dapat diketahui secara pasti.

2.) DESA HADIPOLO

Desa Hadipolo terbentuk kira-kira tahun 1918, yang merupakan gabungan dari wilayah Bareng Gunung, Sumber, dan Dahu. Nama Hadipolo berasal dari bahasa Jawa dari kata Adi yang artinya nuwih, apik, dan becik, serta “Polo” yang artinya utek atau sirah. Jadi Desa Hadipolo dapat diartikan sebagai desa yang penduduknya memiliki kelebihan akal yang menonjol dan berfikiran cemerlang. Hal ini diperoleh dari Empu Tinggal, cikal bakal atau leluhur dari penduduk Desa Hadipolo yang pandai membuat senjata, keris, dan kerajinan lainnya yang terbuat dari logam. Dengan ilmu itulah Desa Hadipolo, khususnya Dukuh Argopuro banyak pengrajin pande besi, sehingga Desa Hadipolo ditetapkan sebagai sentra pande besi di Kabupeten Kudus.

Daftar Kepala Desa yang pernah menjabat di Desa Hadipolo :

  1. Darmo Sapolo Slamet
  2. Sapuan I
  3. Soeradi (1934-1946)
  4. Sapuan II (1946-1953)
  5. Mochamad Badrin (1953-1971)
  6. Mochamad Adenin (1971-1988)
  7. Suleman Slamet(1989-1996)
  8. Nurkholis (1997-2006)
  9. Suleman Slamet II (2007-2013)
  10. Wawan Setiawan (2014-2019)

Geografi dan Demografi Desa Hadipolo


1. Batas Wilayah

     Desa Hadipolo terletak paling barat Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus, dilalui oleh jalan utama pulau Jawa (jalur Pantura).  Batas wilayah Desa Hadipolo adalah sebagai berikut :

  • Batas Utara : Ds. Honggosoco dan Ds. Honggosoco ( Kec. Jekulo )
  • Batas Barat : Ds. Ngembal Rejo ( Kec. Bae ), Ds. Tengeles ( Kec. Mejobo ), dan Ds. Honggosoco ( Kec. Jekulo )
  • Batas Selatan : Ds. Tenggeles  dan Ds. Hadiwarno ( Kec. Mejobo )
  • Batas Timur : Ds. Tanjung Rejo dan Jekulo ( Kec. Jekulo )

1454745785102

2. Jarak dan Waktu Tempuh

  • Jarak terjauh (utara-selatan)    = ± 4,4 km
  • Jarak terjauh (barat-timur        = ± 3,7 km
  • Jarak ke Ibukota Kecamatan    = ± 3 km
  • Waktu tempuh ke Kecamatan   = ± 5 menit
  • Jarak ke Ibukota Kabupaten    = ± 8 km
  • Waktu TEmpuh ke Kabupaten = ± 15 menit

3. Luas Wilayah

     Desa Hadipolo memiliki luas wilayah 516.764 ha yang terdiri dari :

  • Luas pemukiman  : 168.500 ha
  • Luas persawahan  : 226.500 ha
  • Luas kuburan        :      5.000 ha
  • Luas pekarangan  :     14.504 ha
  • Luas perkantoran :           0,5 ha
  • Luas lainnya          :   101.760 ha

4. Keadaan Alam

     Secara garis besar Desa Hadipolo merupakan dataran rendah yang terletak pada ketinggian rata-rata 13,6 m diatas permukaan laut. Terdapat 3 sungai yang melintas, yaitu :

  • Sunga Piji
  • Sungai Jati Pasean
  • Sungai Perak

5. Iklim

Desa Hadipolo memiliki iklim tropis dan bertemperatur sedang, dengan suhu rata-rata 28° C

3.) DESA GONDOHARUM

Gondoharum adalah desa di kecamatan Jekulo, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Desa Gondoharum ini merupakan desa palingtimur di Kabupaten Kudus. Jalan di Desa Gondoharum sering digunakan sebagai jalur alternatif menuju ke Kabupaten Pati. Sebagian besar Desa Gondoharum adalah persawahan dan perkebunan.

Desa Gondoharum berbatasan dengan beberapa desa dan kecamatan diantaranya:

  • Bagian timur berbatasan dengan Desa Wuwur, Kabupaten Pati.
  • Bagian selatan berbatasan dengan Desa Wangun Rejo, Kec. Margorejo, Kabupaten Pati.
  • Bagian barat berbatasan dengan Desa Sidomulyo dan Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus.
  • Bagian utara berbatasan dengan Desa Suko Bubuk, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati.

Asal-usul Desa Gondoharum

Dikisahkan pada zaman dahulu, terdapat seorang kakek bernama Mbah Sewonegoro. Dia memiliki seorang anak bernama Kasim. Namun, dikarenakan konflik keluarga, Kasim pun pergi dari rumah. Di suatu tempat, Kasim bertemu dengan seorang wanita cantik jelita. Wanita tersebut menyelipkan sebuah bunga di telinga Kasim. Bau bunga tersebut begitu harum. Sehingga, nama Gondoharum diambil dari dua kata yaitu ganda/gondo yang berarti bau dan arum/harum yang berarti wangi/harum. Namun, sampai sekarang kebenaran cerita ini masih diselidiki oleh ahli sejarah.

Pembagian Wilayah Desa Gondoharum

Pembagian wilayah Desa Gondoharum menurut dusun yaitu:

  1. Dusun Jajar
  2. Dusun Kaliwuluh
  3. Dusun Tampung
  4. Dusun Tlogo
  5. Dusun Tompe
  6. Dusun Plumbungan
  7. Dusun Asemdoyong

Pembagian wilayah menurut rukun warga terdiri dari 5 RW.

Peta Administratif Desa Gondoharum

0605 desa gondoharum

 

4.) DESA JEKULO

Sesuai tradisi masyarkat, sejarah nama Jekulo dikaitkan dengan kisah adanya dua orang ulama yang hidup saat agama Islam mulai menyebar di wilayah Kudus. Kedua ulama tersebut bernama Abdul Djalil dan Abdul Khohar. Abdul Djalil dikisahkan tinggal di daerah yang saat ini disebut Jekulo Kauman, berdekatan dengan Masjid Baitusallam dan Sungai Logung. Sementara Abdul Khohar bertempat tinggal di daerah selatan yang sekarang disebut Jekulo Karang. Keberadaan Masjid Baitusallam merupakan tanda bahwa penyebaran Agama Islam sudah terjadi.

Asal kata Jekulo dipercaya berasal dari salah satu perkataan Abdul Djalil kepada Abdul Khohar bahwa pada saat itu dia sudah datang ke daerah tersebut. Ungkapan dalam bahasa jawa itu berbunyi kira-kira “Jok kula teng mriki sampun wonten masjid punika”. Perkataan awal “Jok Kula” kemudian mengalami perubahan pengucapan menjadi Jekulo.

Kisah lain menyebutkan bahwa Jekulo berarti pula “ajeg olehe ngawulo” yang terkait dengan kepercayaan bahwa doa-doa para kiai dan ulama akan selalu melindungi desa ini, siapa yang berperilaku baik dan menjaga perbuatannya akan medapat perlindungan dan hidayah Allah SWT serta hidup damai, sementara yang berani berniat jahat akan memperoleh balasan setimpal.

Beberapa tokoh yang berkaitan dengan asal-usul desa Jekulo, yaitu :

  1. Mbah Sewonegoro
  2. Mbah Ali Sanusi
  3. Mbah Yasin
  4. Mbah Achmad Rifai
  5. Mbah Raden Ayu Roro Mendut

5.) DESA BULUNGKULON

Bulung Kulon merupakan salah satu desa yang berada di kecamatan Jekulo, kabupaten Kudus, provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Daerahnya luas dengan luas wilayah 1.435.985 ha/m2. Batas wilayah desa Bulung Kulon adalah
sebelah utara desa Pladen, sebelah selatan desa Talun, sebelah timur desa Sidomulyo, dan sebelah barat desa Bulung Cangkring.

Desa ini terletak paling timur dari pusat kota Kudus. Jarak ke ibu kota kabupaten 10 km dan jarak ke kecamatan 2,3 km. Untuk mencapai desa ini harus melalui jalan yang panjang ± 2 km dari jalan raya. Disepanjang jalan kanan kiri hanya terdapat pemukiman warga yang sangat padat. Untuk lebih mengenal desa Bulung Kulon, berikut asal usul nama sebuah desa adalah sebagai berikut:


Menurut keterangan para leluhur dan tokoh masyarakat, pada zaman penjajahan desaku yang sepi di datangi seorang ulama dari luar kota namanya KYAI ANTENG. Pada saat itu dia menetap didesaku mengajarkan agama Islam kepada masyarakat. Karena desa yang belum bernama tadi kyai menemukan pohon besar namanya Pohon Rembulung. Dan saat itu desaku diberi nama BULUNG.

Karena desanya luas maka dibagi menjadi 2 yaitu Bulung Kulon dan Bulung Wetan. Ulama yang memberi nama desa sudah meninggal dan dimakamkan dekat Pohon Rembulung. Sampai sekarang makamnya diberi nama Makam Kyai Anteng.

Sebagai daerah pedesaan, desa Bulung Kulon adalah desa yang aman, damai dan tentram. Sebagian besar daerahnya merupakan persawahan dan rawa . Sebagian besar wilayahnya digunakan untuk kawasan pertanian selain itu dengan memanfaatkan adanya rawa, selebihnya digunakan untuk pemukiman. Di desa ini terkenal dengan pemancingan ikan di rawa.

Banyak orang di luar daerah yang datang kesini untuk memancing bahkan ada juga yang sekadar melihat-lihat rawa. Desa Bulung Kulon mempunyai tanah yang subur dan pertanian sangat luas. Hasil pertanian antara lain padi, tebu dan kacang hijau.

Jumlah penduduk di desa ini mencapai 10.639 jiwa (2012) dengan penduduk laki-laki sebesar 5.239 jiwa, penduduk perempuan sebesar 5.400 jiwa dan 3.098 Kepala keluarga.

Desa Bulung Kulon terbagi menjadi 5 dusun dengan 8 Rw dan 47 Rt yaitu Pangkrengan 2 Rw dan 10 Rt, Tengah Kulon 2 Rw dan 11 Rt, Tengah Wetan 1 Rw dan 7 Rt, Karang Wetan 1 Rw dan 8 Rt, Karang Rowo 2 Rw dan 11 Rt.

Sekitar 875 jiwa penduduk desa Bulung Kulon bekerja sebagai petani dengan luas persawahan 1189,4 ha/m2 dengan irigasi teknis 357,4 ha/m2, irigasi setengah teknis 213 ha/m2. Buruh tani 2.222 jiwa, PNS 146 jiwa, pedagang
keliling 22 jiwa, peternak 210 jiwa, TNI 20 jiwa, POLRI 12 jiwa, Pensiunan 23 jiwa, Karyawan perusahaan swasta 1.937 jiwa, Buruh bangunan 503 jiwa dan lainnya 246 jiwa.

Mayoritas penduduk di desa Bulung Kulon beragama Islam sebanyak 10.618 jiwa dan beragama Kristen sebanyak 21 jiwa. Terdapat 3 buah masjid dan 33 buah mushola. Selain itu fasilitas olahraga terdapat 1 buah Lapangan sepak bola, 2 buah Lapangan bulu tangkis dan 4 buah Lapangan voli.

Di bidang pendidikan, terdapat 1 unit play group, 1 unit Taman Kanak-kanak, 7 unit SD Negeri, 3 unit Madrasah Diniyah dan 1 unit Mts yaitu Mts.Miftahul Huda. Mts ini jaraknya lumayan dekat dengan pemukiman warga.

6.) DESA BULUNGCANGKRING

Dahulu Bulungcangkring merupakan sebuah desa yang sangat luas yang bernama Bulung. Nama Bulung itu sendiri berasal dari nama sebuah pohon yaitu pohon rembulung (kesula). Karena lidah Jawa maka cukup disebut Bulung saja. Pada jaman wali atau Belanda, desa Bulung dipimpin oleh Ki Gede Bulung. Ki Gede Bulung mempunyai dua orang anak. Kedua anaknya ini ingin menjadi petinggi semua. Karena untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah maka ditetapkan oleh Camat bahwa desa Bulung dibagi menjadi dua yaitu Bulungcangkring dan Bulungkulon. Desa Bulungcangkring terletak di Bulung bagian barat sedangkan Desa Bulungkulon terletak di Bulung sebelah timur.

Peta Desa

Peta Desa Bulungcangkring

Peta Desa Bulungcangkring